Minggu, 24 Oktober 2010

Adakah Kebenaran Dari Yang Aku Lakukan Ini

Siang itu aku sampai dirumah dengan perasaan galau yang amat sangat, bagaimana tidak, pekerjaan yang aku lamar sebagai pemijat di salah satu Panti Pijat daerah Jakarta Timur ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Ada kengerian menghadapi profesi sebagai pemijat yaitu kita akan berada pada posisi segaris rambut untuk mendekatkan diri pada dosa. Berdasarkan iklan satu harian ibukota pada kolom “Lowongan Kerja,” aku membaca salah satu Panti Pijat membutuhkan 10 tenaga pemijat dengan persyaratan wanita umur 25-35 tahun, berpenampilan menarik dan bersedia bekerja shift antara pukul 09.00-23.00 (bekerja setiap hari 7 jam).

“Para pelamar diharapkan datang langsung untuk menyerahkan lamarannya sekaligus wawancara”, begitu bunyi iklannya.

Kalau bekerja sampai malam aku tidak terlampau keberatan dan mengenai penampilanpun aku tidak merasa khawatir karena hampir semua orang yang bertemu muka dengan aku pasti akan terkesima dengan kemolekan mukaku dan putihnya kulitku. Sering orang menggodaku dengan memanggil Cornelia Agatha.. Ahh ada-ada saja orang yang memanggilku demikian batinku. Tidak sedikit para pedagang di pasar menggodaku ketika aku belanja bahkan anak-anak muda di tempatku tinggal banyak yang mencoba mendekatiku, tapi tidak satupun aku gubris karena aku tidak suka dengan pria yang iseng, laginya kematian Mas Imron suamiku belum genap 3 bulan.

Uhh tidak enak sekali status sebagai janda jerit batinku. Kematian Mas Imron inilah yang kemudian memaksaku untuk mencari pekerjaan untuk menghidupi anakku satu-satunya yang bernama Rita. Sedangkan dari kantor suamiku tidak ada pensiun, yang ada hanya klaim kematian dari perusahaan asuransi yang besarnya hanya cukup untuk 3 bulan saja ditambah sedikit uang dari para pelayat yang datang ketika melayat.

Itulah sebabnya aku rajin meminjam koran dari tetanggaku untuk mencari lowongan pekerjaan yang bisa kiranya mencukupi kebutuhan jasmani aku dan anakku. Sampai pada akhirnya aku menemukan iklan membutuhkan tenaga pemijat. Hmm rasanya kalau cuma memijat aku bisa karena nenekku adalah salah satu pemijat yang cukup dikenal di kampung kami dan aku sering bertanya kepada nenekku tentang cara memijit yang benar.
Jam 09.00 pagi itu setelah membersihkan rumah dan masak untuk anakku yang masih sekolah kelas 3 SD takut dia sudah pulang sekolah sebelum aku tiba, aku berangkat ke Panti Pijat yang tertera dalam iklan tersebut.

Setelah berganti 2 kali Metro Mini tanpa menemui kesulitan sedikitpun sampailah aku pada sebuah Ruko 4 lantai dengan tulisan Panti Pijat “KK”.
Dengan berdebar mengingat ini kali pertama aku melamar pekerjaan, aku masuk ke dalam Ruko dan disambut dengan senyum manis 2 orang wanita sebaya denganku.

“Mau melamar yah Mbak?” tanya wanita hitam manis baju hijau muda kepadaku yang agak sedikit nervous.
“Ii.. Iya Mbak” jawabku dengan jantung berdebar.

Ahh kenapa aku jadi grogi pikirku. Toh aku niat baik dengan rencanaku yaitu mendapatkan pekerjaan.

“Pasti Mbak diterima deh” kata wanita berkaos pink sambil memainkan matanya.
“Lho.. Koq tau Mbak?” tanyaku
“Habis Mbak cantik sih” kata mereka hampir bersamaan.
“Terima kasih” kataku dengan pipi memerah karena surprise dengan penilaian mereka terhadap diriku.

Lalu aku melangkah ke arah tangga yang ditunjuk barusan dan terus naik sampai ke lantai 4. Perlahan aku ketok pintu kaca hitam pekat lalu seorang laki-laki berkumis tabal dan berbadan tegap memakai kemeja safari tanpa senyum membukakan pintu kepadaku.

“Mau melamar?” tanyanya sambil berjalan ke arah meja kerja.
“Iya” kataku dengan senyum se-relax mungkin.
“Surat lamarannya sudah lengkap? Mana?” katanya tegas.

Aku menyerahkan map yang berisi surat lamaran, ijazah SMP dan fotocopy KK serta KTP. Pria tersebut membuka dan membaca map yang kuserahkan dan membolak-balik isinya dengan cepat lalu menatap kepadaku..

“Silakan masuk ke ruang Aula.. Itu pintunya.. Gabung dengan pelamar lainnya.. Ini nomor urut.. Tunggu sampai nomor kamu dipanggil untuk diwawancara..” katanya sambil menyerahkan nomor urut kepadaku.
“Terima kasih Pak” jawabku sambil melihat nomor urut..

Wah no 38.. Tidak salah nihh banyak sekali rupanya yang melamar pikirku menduga-duga sambil membuka pintu Aula yang dimaksud Bapak tadi. Begitu aku membuka pintu ternyata benar dugaanku ternyata sudah ada puluhan wanita disana. Ada yang sedang duduk dan ada pula yang berdiri sambil mengobrol. Ahaa.. aku lihat di tengah-tengah wanita-wanita muda itu masih ada kursi yang kosong, akupun melangkah pelan sambil senyum dengan orang yang aku lewati.

“Permisi,” kataku kepada orang yang aku lewati.

Ahh nampaknya semua orang tidak bersahabat sekali denganku.. Tidak ada yang membalas senyumanku, untunglah dibawah tadi ada 2 wanita receptionist yang ramah kepadaku, kalau mereka tidak ramah, mungkin aku sudah kabur pulang kataku dalam hati sambil tertawa kecil.
Wah nambah terus nihh pelamar ketika kulihat ada sekaligus 3 orang wanita datang. Sementara itu bersamaan dengan yang datang ada pula yang keluar dari sebuah ruangan kaca tertutup. Ohh mungkin itu ruangan wawancaranya pikirku.

Cukup lama aku menunggu lebih dari 2 jam, akhirnya nomorku dipanggil oleh seorang pria keturunan India atau arab aku tidak tahu. Kembali jantungku berdebar mendengar nomorku dipanggil, pelan aku melangkah ke arahnya ke arah ruangan kaca yang tertutup tirai dan nampaknya tidak ada celah untuk mengintip itu.

“Silakan masuk” kata pria tersebut sambil memperhatikan buah dadaku yang tertutup dengan blazer batik pemberian suamiku ketika pulang dari Yogyakarta beberapa bulan sebelum kematiannya.
“Terima kasih” kataku sambil masuk ruangan dan langsung mataku menyapu ruangan sejuk didalamnya.

Nampak 1 orang pria lainnya sedang dipijit di kasur kecil oleh wanita pelamar yang sebelumnya sudah dipanggil lebih dulu dariku.

“Silakan duduk” kata pria yang tadi memanggil nomorku dan aku duduk hampir berbarengan dengan dia di sofa tunggal yang tersedia.
“Fahmi” katanya menyodorkan tangannya.
“Yunita” kataku menyambut tangannya.

Kami bersalaman. Lalu dia membuka map yang tadi aku serahkan kepada pria yang didepan tadi (mungkin bagian keamanan si bapak tadi yah?). Fahmi begitu tadi dia memperkenalkan diri membaca dengan seksama Lamaran Kerjaku sambil sesekali melirik kearahku.

“Anak kamu berapa?” tanyanya.
“Satu Pak” kataku memberanikan diri menatapnya.
“Suami kamu kerja?” tanyanya lagi.
“Sudah meninggal 3 bulan yang lalu karena kecelakaan Pak” kataku tapi mataku tidak berani menatap matanya.

Mataku hanya mengarah ke map yang ditangannya. Matanya itu loh menatap tajam kearah payudaraku yang sedikit terbuka karena aku duduk agak kedepan. Sial pikirku kenapa aku tadi pakai kaos tipis longgar begini, walaupun pakai blazer tetap saja kaos ini tidak bisa menjaga payudaraku ukuran 36 ini.
Lagi asyik mikir-mikir baju kaosku ketika itulah aku kaget sekali karena lemari buku yang disampingku tiba-tiba bergesar terbuka dan muncul seseorang agak botak berbadan tinggi besar muncul dan langsung melihatku. Wuih hebat juga lemari ini ternyata bukan sekedar lemari tetapi juga berfungsi sebagai pintu pikirku.

Aku tersenyum kepada lelaki yang baru keluar dari “lemari” tersebut, kutaksir umurnya sekitar 50 tahun dengan rambut agak tipis mendekati botak namun cukup tampan tetapi tetap keturunan timur tengah seperti Fahmi.

“Fahmi, masih banyak pelamar?” tanyanya dengan suara berat kepada fahmi tapi matanya sama saja dengan fahmi menatap tajam ke arah dadaku. Dasar laki-laki kenapa selalu payudara saja tujuan matanya.
“Masih sekitar 30 orang lagi Bang dan saya sudah perintahkan kepada Satpam untuk tidak menerima lagi hari ini para pelamar” Kata Fahmi kepada orang yang dipanggil Abang tadi.
“Ya sudah kalau begitu nona ini biar saya wawancarai dan kau panggil yang lain” katanya dengan berwibawa.
“Baik Bang” Kata Fahmi sambil menyerahkan Map lamaran aku kepada si Abang.
“Mari” kata si Abang berjalan didepanku..

Aku mengikuti dari belakang menuju ruangan yang pintunya dari lemari tersebut. Wahh tinggiku cuma seketeknya.. Dan lebar badanku cuma setengah badannya.. Aku tertawa dalam hati membandingkan tubuhku dengan tubuhnya. Kemudian si Abang tadi berbalik dan menutup pintu yang sekaligus berfungsi sebagai lemari kalau dilihat dari dari luar.
Wuihh.. Hebat sekali orang ini pikirku, ruangannya mewah sekali dengan warna dominan maroon persis seperti ruangan yang biasa digunakan orang-orang kaya di opera sabun Televisi. Dipojok dekat jendela ada springbed kecil warna pink lengkap dengan bed cover warna kuning. Indah sekali. Si Abang tadi menyuruhku duduk disampingnya pada sofa yang sangat lembut sekali dekat meja kerjanya.

“Kamu sudah pengalaman pijat?” tanyanya sambil menyapu tubuhku.
“Belum pernah Pak” kataku sambil menatap ke arah karpet berwarna-warni.
“Kalau begitu kenapa kamu melamar kalau tidak punya pengalaman pijat?” tanyanya membuat jantungku kembali berdebar-debar takut.
“Anu Pak.. Ehh.. Saya pernah belajar pijat dari nenek saya.. Beliau tukang pijat terkenal di kota Madiun kampung saya Pak” kataku mencoba meyakinkan si Abang.
“Bagaimana kalau nanti ada tamu yang badannya sebesar saya, apakah kamu mampu memijatnya?” katanya tegas tapi ada nada becanda didalam pembicaraannya.
Aku tersenyum dan kukatakan, “Saya bisa Pak dan saya kuat koq Pak”.

“Kamu tahu ndak,” lanjutnya, “Kalau disini para pemijat, saya perintahkan untuk membuka semua pakaian para tamu tanpa terkecuali pada saat akan mulai memijit.. Artinya para tamu tidak menggunakan celana dalam” katanya tegas.
“Hah?! Jadi tamunya telanjang bulat Pak” aku kaget sekali mendengar penuturannya.

Si Abang hanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Langsung aku terbayang bagaimana mungkin aku memijat laki-laki yang telanjang bulat.. Yahh ampun bagaimana kemaluannya kena tanganku.. Jangan-jangan nanti aku diperkosa.. Bukankah lelaki kalau sudah ereksi harus dikeluarkan air maninya.. Paling tidak begitu kata almarhum suamiku. Tapi aku butuh uang untuk meneruskan kehidupan aku dan anakku. Bagaimana yah batinku.

“Tapi jangan takut..” kata si Abang tadi membuyarkan lamunanku.
“Disini para tamu dilarang membuat tindakan asusila.. Misalnya beginian ditempat ini” kata si Abang menunjukkan jempolnya yang disisipkan diantara telunjuk dan jari tengahnya yang berarti tanda bersetubuh.
“Tapi kalau kamu kocok kemaluannya sampai bucat nahh itu wajib dilakukan kalau tamu meminta.. Harus dilayani.. Tidak boleh ada tawar menawar harga untuk itu” katanya sambil tersenyum.

Aku kembali bergidik yahh ampun.. Bagaimana mungkin aku lakukan.. Artinya kalau aku menerima 5 tamu berarti aku memegang 5 pe***.. Ohh my god pikirku.. Terasa adrenalin-ku memancar ditubuhku.. Baru aku sadar sudah lebih 3 bulan ini aku tidak pernah memikirkan pe*** setelah kematian suamiku. Dan hanya pe*** suamiku lah yang satu-satunya pernah kupegang selama hidupku.

“Bagaimana? Kamu setuju?” tanya si Abang mengagetkan aku.
“Ehh.. Saya pikir-pikir dulu Pak nanti” kataku gugup.
“Tidak bisa nanti-nanti” kata si Abang tegas katanya sambil matanya memandang payudaraku.
“Kamu harus putuskan sekarang.. Mau atau tidak dengan pola kami, kalau setuju.. Mulai besok kamu boleh langsung masuk untuk di trainning.. Kalau tidak mau atau pikir-pikir.. Atau nanti-nanti.. Atau besok-besok.. Itu sama saja artinya kamu tidak ada kesempatan lagi kerja disini” kata si Abang dengan suara keras.

Aduhh bagaimana dong.. Mulai muncul kepananikan dalam diriku.. Aku mulai tidak dapat berpikir jernih. Ohh iya aku ada ide untuk menolak pekerjaan ini tanpa menyakiti hatinya..

“Bagaimana dengan gajinya Pak?” tanyaku.
“Hmm kamu cerdas.. Itulah makanya saya suka sama kamu.. Melamar kerja memang harus tanya gaji” kata si Abang sambil menyalakan rokoknya.
“Disini beda dengan panti pijat yang lain.. Disini kamu dapat gaji tetap Rp.300.000/bulan ditambah bonus Rp. 15.000,- per tamu yang kamu handle. Jadi kalau sehari kamu dapat 3 tamu saja.. Kerja sebulan 22 hari.. Hmm..” kata si Abang sambil menarik hidungnya yang mancung sambil menghitung.
“Berarti sebulan kamu menerima paling kecil Rp.1.300.000,” lanjutnya.
“Dan itu belum tip dari tamu lho.. Para tamu disini rata-rata memberikan tip Rp. 50.000, setiap pijat.. Jadi hitung sendiri berapa penghasilan kamu?” kata si Abang sambil tersenyum.

Cepat aku menghitung.. Dahiku mengkerut.. Tip Rp.50 ribu per tamu.. Kalau ada tamu sehari 3 orang berarti aku bawa pulang tiap hari Rp. 150.000, kalau itu dikalikan 22 hari sama dengan hmm Rp.3.300.000,-.. Besar sekali batinku.. Dan ehh tunggu dulu.. Itu belum ditambah penghasilan tetap Rp. 1.300.000,-.. Berarti uang yang ku terima tiap bulan Rp.4.600.000,- Ohh aku berteriak dalam hati.
Ekspresi kegembiraanku kutunjukan dengan senyum ke si Abang.. Mau rasanya aku peluk dia. Bayangkan saja, uang segitu hampir 4 x gaji almarhum suamiku yang hanya Rp. 1.200.000,- sebagai supir kantor.

“Bagaimana?” tanya sia Abang.
“Baik Bang.. Ehh Pak” kataku cepat hampir tanpa kontrol.

Si Abang langsung membelai rambutku.. Aku mendiamkan saja karena kegembiraanku.

“Tapi.. Ada tapinya lho..” kata si Abang berbicara dekat dengan wajahku sambil terus membelai rambutku.
“Hah? Tapinya apa Pak?” tanyaku cemas..
“Kamu harus memang bisa pijat” tegas si Abang.
“Ohh pasti lah Pak.. Saya pasti akan lakukan tugas saya untuk membuat tamu senang” kataku kembali tenang.
“Anak baik.. Nahh ada persyaratan 1 lagi yang paling penting dalam test saat ini” lanjut si Abang.
“Apa Pak?” tanyaku masih heran, koq ada lagi..
“Kamu harus bisa membuktikan sekarang juga kalau kamu memang bisa pijat.. Sama dengan yang dilakukan teman kamu diluar tadi.. Kamu lihat toh?!” siabang menarik rokoknya sambil melihat ke arah enternit.
“Boleh Pak.. Ehh.. Jadi yang saya pijat Pak Fahmi.. Yang diluar tadi Pak?” tanyaku.
“Bukann.. Tidak dengan siapa-siapa.. Tapi dengan saya.. Disini” katanya tegas.
“Ohh.. Baik Pak.. Saya siap” lanjutku sambil tersenyum.
“Ok.. Ayo kita ke tempat tidur” katanya sambil menarik tanganku dan berjalan ke arah springbed warna pink dekat jendela.

Lalu dia menyerahkan sebuah botol.

“Ini creamnya” aku menerima botol tersebut dari si Abang.
“Anggap saja aku tamu kamu yah Nita” kata si Abang sambil membuka baju dan kaos oblongnya.

Aku mengangguk setuju.

Wuih.. Takjub sekali aku melihat badan si Abang yang masih terlihat otot-otot baik di dada maupun di perutnya dengan dihiasi bulu disekitar dada menyambung sampai ke pusar. Walaupun usianya pasti mendekati 50 pikirku. Si Abang tersenyum kearahku melihat caraku memandang tubuhnya.. Aku jadi malu, kutundukkan mukaku.

Lalu masih dengan memakai celana panjang, siabang langsung tidur telungkup di tempat tidur. Aku termangu sekejap tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Ayo.. Pijat cepat,” kata si Abang sambil menarik tanganku untuk dibimbing ke pundaknya.

Aku pijat pundaknya.. Keras sekali..

“Apakah ada yang salah dengan pelayanan kamu sebagai pemijat di tempat ini?” tanya si Abang.
“Apa.. Apa ada yang salah Pak?” aku bertanya tidak mengerti.
“Tadi kan sudah saya terangkan kalau ditempat ini tidak boleh ada tamu yang mengenakan pakaian apapun termasuk celana dalam.. Kamu lupa?”

Dhuarr.. Jantungku mau copot rasanya mendengar pertanyaan si Abang..

“Ehh.. Apa perlu sekarang Pak?” tanyaku dengan muka yang merah, untung si Abang tidak melihat perubahan mukaku.
“Tadi kan saya bilang juga.. Anggap saja saya tamu kamu?” si Abang mulai terlihat nada tidak senang.
“Cepat katakan ke tamu kamu” lanjut si Abang..

Aku tidak dapat menyembunyikan rasa kikuk ku..

“Pak.. Ehh.. Anu.. Celananya dibuka yah Pak” kataku dengan suara bergetar.
“Buka aja sendiri” kata si Abang sambil membalikan badannya dan memandang ke arahku.

Aku terdiam sesaat.. Ragu.. Si Abang dengan cepat menarik tanganku supaya aku lebih mendekat dan menuntun tanganku ke ikat pinggangnya..

“Cepat buka” perintahnya.

Aduhh kalau tidak membayangkan uang yang akan aku peroleh dari pekerjaan ini, pasti aku sudah kabur dari tempat ini. Dengan gemetar aku buka ikat pinggangnya dan selanjutnya kancing celana dan terakhir retsluitng celana si Abang.

“Ayo.. Tarik celana ku” kata si Abang.

Pelan aku tarik celana panjang si Abang sambil melirik ke muka si Abang. Pinggul Si Abang diangkat lalu kakinya juga diangkat hingga dengkulnya menyentuh perutnya tapi mukanya tidak menunjukan ekspresi apapun. Tanganku terus menurunkan celana panjang tersebut tapi mataku tidak berani kemana-mana.. Hanya memandang dengkulnya yang nyaris menyentuh wajahku..

Tiba-tiba..

Si Abang menurunkan kakinya yang tadi dengkulnya menyentuh perut.. Denngg.. Ya ampun.. Terpampanglah pe*** yang begitu gemuk dan kepalanya yang sebesar kepalan anak bayi. Bagaimana mungkin ada pe*** sebesar itu pikirku dengan rasa takjub yang tidak terhingga sehingga tidak sadar aku memelototi penis si Abang, rupanya si Abang tidak mengenakan celana dalam lagi.
3 detik berlalu aku dilanda rasa terkejut dan takjub dengan pemandangan yang hanya berjarak kurang dari sejengkal.. Tiba-tiba.. tanganku diraih oleh Abang dan langsung di tuntun memegang pe***.. Adduhh.. Jantungku rasanya mau meledak dengan sirkulasi darah yang begitu cepat.. pe*** itu sudah dalam genggamanku.. Hangat dan berdenyut penis tersebut dalam genggamanku.
Wow.. Wow.. Wow.. Sudah kupegang tapi kepala dan leher pe*** ada di luar genggamanku.. Luar biasa sekali besarnya. Tidak sadar tanganku meremas dan memaju mundurkan pe*** tersebut, gemas sekali melihat ada pe*** begitu besar mungkin lebih 2 x dari pe*** Mas Imron almarhum suamiku.

“Bagus Nita.. Iya begitu” kata si Abang yang sampai aku remas pe***nya tapi aku belum tahu namanya.

Dengan gemas kupercepat kocokan di tanganku dan seiring dengan kocokan itu maka penis tersebut menjadi makin gemuk dan makin panjang. Urat-uratnya menonjol semua.. Besar-besar. Si Abang menghentikan kocokanku dan memencet botol yang berisi cairan seperti baby oil ke telapak tanganku, lalu aku kembali mengocok kembali pe*** tersebut.
Dibawah sana, celana dalamku sudah terasa basah sekali mengeluarkan cairan pelumas yang biasanya dimaksudkan untuk menyambut serangan pe***.

3 bulan lebih sudah aku tidak mendapat sentuhan lelaki dan kini rasanya aku sangat butuh sekali pe***. Digenggamanku sudah ada pe*** tapi bagaimana aku memintanya? Baru saja aku selesai berpikir demikian, seperti membaca pikiranku, tangan si Abang tiba-tiba meraih pahaku untuk ditarik mendekat kearah kepalanya.

Tidak ada perlawanan dari kakiku.. Aku dekatkan pinggulku kearah kepalanya tapi dengan posisi aku tetap berdiri. Perlahan tapi pasti, tangan si Abang kini menyelusup ke dalam rok ku dan berhenti di selangkanganku. Salah satu jarinya menerobos masuk melalui celana dalam ku..

“Auhh” teriakku menghentikan kocokanku karena jari si Abang langsung menyentuh dan menekan clitoris ku sambil diputar-putar.
“Ohh..” aku mengerang sambil menengadahkan mukaku menikmati rasa nikmat yang luar biasa menyerbuku.

Menengadah aku sambil memejamkan mata merasakan gejolak yang rasanya luar biasa ini dan rasanya ini tidak dapat dihentikan lagi. Tidak sadar, sangking merasakan nikmat, aku pun jatuh seperti tidak ada tenaga.

Si Abang cepat bangkit meraih tubuhku dan menidurkan pada spring bed-nya, walaupun demikian aku masih sadar kalau kakiku juntai berada diluar spring bed. Lalu si Abang mengangkat kedua kakiku mengangkat rok dan menurunkan celana dalamku.. Ohh aku sudah tidak bisa mundur lagi sekarang…

Tapi urat sadar dan urat malu ku masih berfungsi walaupun kecil sekali kadarnya..

“Bang.. Ehh Pak.. Jangan Pak.. Saya belum pernah begini selain dengan suamiku” kataku dengan suara pelan.
“Apa?” tanya Abang seperti tidak mendengar dan langsung terasa bibirnya ada di paha atas ku.
“Ohh” aku mengerang nikmat tidak jadi memprotes malah menikmati bibir yang menarik-narik lembut kulit pahaku.

Dan pada akhirnya kurasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh clitorisku dan menariknya keluar dengan lembut. Aku penasaran sekali dengan apa yang diperbuat si Abang.. Ya ampunn terlihat mulut si Abang dengan rakusnya menarik-narik daging yang disekitar va***ku..
Ampunn nikmattnyaa.. Kembali kepalaku roboh seperti tidak bertanaga merasakan kekuatan strom yang begitu hebat.

“Ohh.. Bangg.. Kenapa bisa nikmat begini..” aku mendesis seperti tidak percaya dengan keadaan ini.

Sejujurnya suamiku dulu, tidak pernah melakukan hal ini kepadaku sebelumnya. Jadi va***ku dijilat sungguh-sungguh pengalaman yang baru bagiku.. Dan lahar itupun tidak dapat dibendung.. Tubuh kaku terasa pucat dan gelap semuanya ketika kurasakan cairan va***ku deras menerjang.

“Ohh..” aku merintih sambil keluar air mata.

Crott.. Crott .. Crott.. Aku orgasme.. Ya ampun.. Kenapa aku orgasme begini hebatnya batinku. Tidak sadar beberapa detik, akhirnya aku bisa melihat cahaya lagi… Pelan kepalaku mencari si Abang.. Ohh rupanya dia masih menjilati cairan v*** dengan rakusnya.. Ohh lidah itu.. Kenapa masuk kedalamm.. Uhh kembali aku dilanda ketegangan baru.
Lidah itu kenapa kasar sekali bagaikan amplas menjilati setiap relung kehormatanku ini.. Astaga nikmatnya tak dapat dikatakan dengan kata-kata apapun. Namun aku kecewa ketika kulihat Abang berdiri. Apakah ini akan berakhir?

Tapi.. Tidak.. Ohh ternyata Abang menarik pinggulku sehingga badanku ikut tertarik ke arahnya.. Astaga.. Apakah ini akan terjadi batinku.. Apakah persetubuhan ini akan terjadi.. Aku menduga sambil berharap. Kedua kakiku diangkat oleh si Abang sampai dengkulku menyentuh perutku. Terpampanglah sudah kehormatanku.. Berhadapan langsung dengan pe*** si Abang yang tegang dengan angkuhnya.

Dan..

Deekk.. Terasa kepala pe*** si Abang sudah bertemu bersentuhan dengan pintu va***ku.. Keras sekali pe***nya terasa. Ohh.. Nikmatnya.. Aku terpejam dan berusaha keras tidak bersuara.. Aku malu. Aku tidak mau memprotes dan juga tidak mengiyakan apa yang telah si Abang lakukan ini kepadaku. Aku ingin kejadian ini berjalan saja menurut putaran detik. Aku sudah siap dan sangat ingin melakukan persetubuhan ini. Rasanya aku sekarang sedang melaksanakan takdirku.

Pelan sekali tapi pasti kurasakan pe*** Abang menyeruak masuk.. Uhh besar sekali terasa kepalanya masuk.. Keras sekali bagaikan baja yang lembut. Si Abang berhenti sebentar, bibirnya terasa menyentuh bibirku.. Aku membalas ciuman Abang.. Kusedot pelan bibir atasnya sambil lidahku bermain disana.. Ahh nikmat sekali

Kurasakan kepala pe*** Abang di tarik sedikit.. Lalu di dorong kembali kedalam.. Uhh rasanya lebih dalam dari sebelumnya. Ada 6-7 kali pe*** Abang keluar masuk tapi hanya disekitar kepala dan leher pe***nya saja.. Lalu ciuman Abang pindah ketelingaku.. Aku semakin terangsang..
Tak sadar pinggulku pun kutekan keatas dan bersamaan dengan itu pe*** si Abang masuk secara pelan namun terus.. Terus.. Dan terus.. Menembus kedalam dan kurasakan mentok lalu berhenti.. Baru lah disitu aku rasakan penuh sekali va***ku.. Terasa ingin meledak tapi nikmatt sekali.

“Ohh bangg..” mataku sayu memandang Abang yang sudah dalam posisi mukanya hanya berjarak 15 cm dari wajahku..

Tanganku mengusap pipinya.. Terasa pinggul Abang ingin menekan terus tapi yah memang sudah mentok. Berdenyut-denyut bergantian kelamin kami didalam sana. Seakan-akan sedang berkenalan dan bertutur siapa. Aneh batinku.. Kenapa aku tidak merasakan sakit sedikitpun saat pe*** raksasa itu masuk kedalam va***ku.
Luar biasa orang ini pikirku.. Pasti dia sudah berpengalaman sekali dengan wanita. Pendek saja si Abang mengangkat pinggulnya dan menekan kembali sudah membuat aku hanyut pada sesuatu yang entah apa namanya. Lalu tiba-tiba..

Si Abang berdiri.. Uhh.. Otomatis p***nya terangkat menghantam langit-langit va***ku.. Nikmat sekalii.. Sedetik kemudian si Abang cepat menarik seluruh pe***ya sehingga bisa kulihat mengkilat terkena cairanku lalu di hantam ke dalam lagi.. Keras sekali pe***nya terasa.. Cepat ditarik kembali..
Dengan pandangan yang sayu, aku dapat melihat muka si Abang seperti entah dendam.. Entah gemas dia terus memacu pinggulnya dengan cepat. Tidak terasa dan tidak pernah dalam sejarah persetubuhan dalam hidupku aku mengerang keenakan diiringi kayuhan cepat pinggul Abang keluar masuk sambil tangannya memaju mundurkan pinggulku..

Dan.. Luarr biasaa.. Crett.. Crett.. Croott.. Aku kembali dilanda orgasme ke dua kalinya..

Kembali dunia gelap, tak terdengar apapun rasanya.. Yang ada hanya kenikmatan yang bergulung-gulung rasanya menerpaku.. Tapi aku masih terasa kalau tubuhku masih di maju mundurkan oleh tangan Abang dan pe***nya keras masih maju mundur.. Kesadaranku hampir pulih.. Ketika kulihat Abang masih berkeringat menggenjot pe***nya pada lubang surgaku.. Dan..

“Ahh..” si Abang teriak dengan kencangnya..

Sedetik kemudian kurasakan.. Crott.. Croott.. Crott.. Crott.. 4 kali tembakan keras dan panas dapat kurasakan menghantam rahimku.. Ohh.. Nikmatnya persetubuhan ini batinku.. Kuarasakan Abang yang berbadan demikian besarnya terjerembab jatuh ke dadaku. Memelukku yang masih berpakaian atas lengkap tapi sudah basah dengan keringat dan kini makin basah menyapu keringat dari badan si Abang.

“Nita..” kata Abang setelah ada setengah menit memeluk aku..
“Kamu luar biasa.. Me***mu tidak ada duanya”

Kaget juga aku dia mengucapkan milikku dengan vulgarnya.. Hehehe tapi nggak papa.. Tohh pe***nya masih berada dalam me***ku.. Ehh va***ku.. Koq aku jadi ikut ngomong yang jorok.. Aku tersenyum.

“Maaf Bang, aku mau ke kamar mandi”

Aku kembali tidak menanggapi omongan Abang paling tidak harga diriku tidak runtuh total pikirku.

“Ohh iya.. Itu kamar mandinya..” kata Abang sambil menarik pe***nya dari va***ku dan berdiri.

Aku bangkit dan duduk, kulihat p***nya Abang masih meneteskan cairan kami berdua. Luar biasa penis itu. Walaupun sudah tertidur tapi sangat panjang dan gemuk jatuh kebawah dan meneteskan cairan.
Setelah membersihkan diri akupun dipersilakan pulang untuk kembali ikut trainning keesokan harinya. Tak lupa si Abang menyerahkan amplop dan menyalamkannya pada tanganku.

“Untuk anakmu” katanya.

Dan ketika kubuka di rumah ternyata amplop tersebut berisi uang sebanyak satu juta Rupiah. Ohh aku menjadi perempuan pelampiasan nafsu. Diperkosa dikasih duit pula.

Widi, Lucy dan Nola di pulau seribu

Widi, Lucy, Nola  sedang berlibur di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Mereka ingin sekali pergi dari hiruk pikuk kota Jakarta, dan juga memanfaatkan waktu kosong selama tiga bulan karena sepinya panggilan untuk show. Akan tetapi ternyata liburan itu berubah menjadi sebuah mimpi bagi mereka bertiga.

Mereka sedang beristirahat di pondok, setelah sehari penuh berlari-lari dan bersenang-senang di pantai, ketika terdengar ketukan di pintu. Widi membuka pintu. Dan dengan segera tiga orang polisi masuk ke pondok itu. Ketiga gadis itu tidak mempunyai kesempatan bertanya apa yang terjadi karena dengan segera tangan mereka diborgol dan mereka digiring ke mobil tahanan yang menunggu di luar. Ketiga polisi itu juga mengemasi semua pakaian ketiga gadis itu dan membawanya pergi sehingga tidak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di pondok itu. Kemudian mereka dibawa ke sebuah markas polisi. Setelah sampai mereka digiring ke ruang interogasi di bawah tanah. Ketiga gadis itu ditubuh menggunakan exctasy selama mereka berlibur di pulau itu. Mereka memprotes tuduhan itu tapi polisi itu tidak peduli atas sanggahan Widi, Lucy dan Nola. Ketiga gadis itu ditanyai secara bersamaan pada awal pemeriksaan. Mereka sangat ketakutan, tapi karena tuduhan itu sama sekali tidak benar, mereka sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dari para polisi itu. Dua dari polisi tersebut yang satu berbadan besar dan hitam, sedang yang satu lagi berkepala botak. Kemudian Widi ditarik berdiri untuk digeledah. Sedangkan Lucy dan Nola masih terborgol dan duduk di atas kursi melihat penggeledahan tersebut.

Polisi yang berkulit hitam berdiri di belakang Widi dan memegangi bahunya. Tangan Widi masih terborgol ke belakang. Lalu mulai menggeledah seluruh tubuh Widi, mulai dari dada, pinggang kemudian turun ke paha dan kakinya. Ketika ia tidak menemukan apapun ia mengangguk kepada polisi yang berkepala botak dan melanjutkan pencarian secara lebih seksama. Polisi yang berkepala botak itu mendekat dan mulai melepaskan kancing baju Widi. Widi ketakutan dan mulai berteriak dan meronta-ronta. Ia menutup mulut Widi dengan tangannya dan menyuruhnya untuk diam.

Widi terus berteriak, ia kemudian menjepit hidung Widi dan menutup mulut Widi. Widi mulai kehabisan nafas dan terus meronta-ronta. Polisi yang berkulit hitam itu menyuruhnya untuk diam. Temannya yang berkepala botak melepaskan tangannya dan berkata “Diam, atau kamu mati!” Widi tidak dapat berbuat apa-apa selain mematuhi perintah itu.

Polisi yang berkepala botak melanjutkan menelanjangi Widi. Ia melepaskan kancing baju Widi dan melepaskannya hingga bagian depan tubuh Widi terbuka. Kedua polisi itu sejenak memandangi buah dada Widi yang tertutup oleh BH putih berenda. Polisi yang berkulit hitam meraba buah dada Widi yang masih tertutup BH itu. Kemudian ia mulai melepaskan kancing dan restleting jeans Widi. Jenas itu dengan segera dapat ditarik turun. Ia menarik sepatu Widi dan kemudian melepaskan jeans dan kaki Widi. Selangkangan Widi juga tertutup oleh celana dalam putih yang dihiasi oleh renda kecil, ia dengan tidak sabar langsung menarik celana dalam itu membuat nonok Widi terlihat. Jembut nonok Widi yang hitam dan keriting tampak tumbuh dengan sangat suburnya menutupi bukit nonok yang tampak cembung itu. Keduanya memperhatian nonok itu itu selama beberapa saat tapi tanpa menyentuhnya.

Karena tangan Widi masih terborgol ke belakang, baju dan BH Widi tidak bisa dilepaskan. Polisi yang berkepala botak mengambil kunci borgol dan melepaskan borgol itu dari tangan Widi. Kemudian baju dan BH Widi segera dilucuti dari tubuh Widi. Itu membuat buah dada Widi yang bulat sedang terpampang dengan jelas di hadapan kedua polisi itu dihiasi pentilnya yang berwarna kemerahan. Widi sekarang berdiri telanjang bulat ditengah ruangan dihadapan polisi itu. Kedua polisi itu seakan-akan lupa dengan tugas penggeladahannya dan mulai merabai tubuh Widi. Ketika Widi mulai meronta, yang berwajah hitam memukul buah dada Widi dengan tangannya keras-keras. Jerit kesakitan Widi segera diredam oleh tangan yang berkepala botak yang menutup mulutnya. Widi diperingati untuk tetap diam dan tidak bersuara. Widi denga putus asa diam ketika tubuhnya diraba-raba oleh tangan kedua polisi tadi. Sementara Lucy dan Nola melihat semua yang terjadi dan ketakutan menyadari mereka akan mendapat perlakuan yang sama.

Widi yang kadang masih meronta, membuat kedua polisi tersebut sadar tujuan mereka menelanjangi Widi. Mereka segera mulai menggeledah tubuh Widi secara seksama. Rambut Widi diperiksa diikuti dengan mulut kemudian kulitnya. Kemudian Widi dibaringkan di atas sebuah meja dan dipaksa untuk menangkat kakinya hingga menempel ke dadanya, membuat nonok itu terlihat dengan sangat jelas ke atas. Tampak liang nonok yang dikelilingi jembut jembut hitam keriting dan lebat itu menganga berwarna kemerahan. Yang hitam memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Widi dan mulai mencari-cari dengan jarinya itu. Widi merasa sangat kesakitan, dan malu mendapati seseorang memasukan jarinya ke dalam alat kelaminya.

Ketika tidak juga ditemukan sesuatu, kedua polisi tadi memutuskan untuk memeriksa anus Widi. Widi ditarik berdiri dan diperintahkan untuk membungkuk berpegangan pada meja tadi. Yang hitam membuka kaki Widi dan berjongkok di belakang Widi. Kemudian ia mendorong jari tengahnya masuk ke dalam liang anus Widi. Widi mulai menjerit kesakitan lagi, tapi yang berkepala botak mendekatinya dan mengancamnya akan memukuli Widi jika ia terus berteriak. Widi dipaksa untuk merasakan anusnya diperiksa secara brutal oleh si hitam tanpa mengeluarkan suara. Lucy dan Nola dapat mendengar nafas Widi tersentak dan tubuh Widi mengejang setiap kali jari si hitam berputar-putar di dalam anus Widi.

Setelah mereka selesai memeriksa tubuh Widi, dengan tangan kembali terborgol ke belakang dan telanjang bulat, Widi dibawa mendekati Lucy dan Nola. Widi didudukan di atas kursi sementara kedua polisi tadi membawa Lucy ke tengah ruangan. Proses pencarian pada Lucy sama dengan yang dilakukan pada Widi, tapi Lucy ditemukan membawa beberapa obat-obatan untuk dirinya. Ketika polisi menemukan itu, si hitam langsung segera menelanjangi Lucy kembali memeriksa tubuh Lucy secara seksama. Tubuh Lucy yang putih mulus itu tampak sangat terawat dengan baik dengan susunya yang juga berukuran sedang dihiasi dengan puting susunya yang berwarna merah kecoklatan, sementara nonoknya tampak juga ditumbuhi dengan jembut jembut yang tebal, sungguh pemandangan yang sangat merangsang bagi kedua polisi itu maupun bagi siapapun yang melihatnya. Kedua polisi itu secara bergantian memasukan jari mereka ke lubang dan anus Lucy. Setelah mereka selesai air mata sudah meleleh di seluruh wajah Lucy.

Selanjutnya Nola mendapat giliran untuk diperiksa. Dan tetap tidak ditemukan sesuatu. Kedua polisi itu juga memeriksa nonok dan anus Nola dengan jarinya. Rontaan Nola hanya membuat mereka semakin brutal memeriksa nonok dan anusnya. Si hitam memasukan jari tengah dan telunjuknya ke dalam nonok Nola, kemudian menekuknya dan memutarnya sehingga ia bisa memeriksa seluruh bagian dalam dari nonok Nola. Kemudian setelah mereka selesai mereka mulai menanyai ketiga gadis itu yang masih duduk terborgol, telanjang bulat.

Karena obat yang ditemukan pada dirinya kedua polisi itu mulai menanyai Lucy. Ketiga gadis itu digiring masuk ke ruangan kedua. Ketika masuk terlihat bahwa ruangan itu kedap suara. Borgol pada tangan Widi dan Nola diikatkan pada rantai di dinding ruangan itu sehingga terikat di atas kepala mereka. Sedangkan Lucy dibawa di tengah ruangan. Tangan dan kaki Lucy diikat, pertama kedua tangannya ditarik oleh tali itu hingga tubuh Lucy terangkat dari lantai dengan hanya bergantung pada tangannya. Kemudian kaki Lucy dikat dan ditarik hingga terbuka dan kedua talinya diikat ke gelang besi di lantai.

Sekarang Lucy tergantung tanpa menyentuh lantai menyerupai huruf X, seluruh berat badan Lucy bergantung pada tangan Lucy yang terikat ke atas.

Kedua polisi itu mulai menanyai Lucy mengenai obat yang dibawanya. Lucy berusaha keras menjelaskan itu adalah obat yang diberikan dokter pada dirinya dan bukan obat terlarang. Keterangan itu hanya membuat polisi itu semakin marah. Hitam mendekati lemari yang ada di ruangan itu dan kembali dengan membawa sebuah pecut. Pecutannya yang pertama tepat mendarat di puting susu Lucy. Sunyi sejenak selama Lucy berusaha menghirup udara, sebelum akhirnya sebuah jerit kesakitan terdengar dari mulutnya. Lucy merasa puting susunya serasa terbakar. Pecutan kembali datang dan jeritan Lucy kembali membahana ke seluruh ruangan. Kedua polisi itu menyiksa Lucy dengan sekuat tenaga, tanpa peduli dengan aturan dalam menanyai seorang tersangka. Dua pecutan kembali diarahkan ke kedua puting susu Lucy. Kemudian si hitam berhenti sejenak menunggu hingga Lucy dapat mengumpulkan tenaga untuk berbicara lagi.

Lucy memohon pada mereka untuk berhenti menyiksanya, tapi mereka tetap terus menanyai Lucy tentang obat yang ia punyai dan hubungannya dengan para pengedar exctasy. Botak kemudian berbalik menuju lemari, dan kembali dengan mendorong sebuah unit yang mirip dengan mesin las yang biasa dibawa oleh tukang las keliling. Unit itu disambungkan dengan saluran listrik di dinding. Si botak kemudian mengambil dua buah sambungan dari mesin itu dan mendekati Lucy. Di ujung sambungan itu terdapat jepitan buaya berukuran besar yang biasa digunakan untuk mengisi sebuah aki. Si botak kemudian memilin dan memijat puting susu Lucy hingga perlahan tapi pasti puting susu Lucy mengeras dan mengacung, yang dengan segera dijepit oleh jepitan buaya tadi. Kembali Lucy menjerit-jerit kesakitan. Si botak kembali mengulangi itu pada puting susu Lucy yang lain. Lucy hanya bisa menjerit-jerit ketika rasa sakit menyerang kedua puting susunya sekaligus.

Mesin yang terletak dihadapan Lucy mempunyai tombol putar yang berguna untuk mengatur besar arus listrik yang mengalir ke kabel yang tersambung ke jepitan buaya tadi. Lucy melihat dengan mata ketakutan melihat si botak meletakan tangannya di atas tombol putar tadi. Si botak memutar tombol itu sedikit dan jarum penunjuk tampak melompat sedikit. Lucy dapat merasakan getaran di kedua puting susunya. Kembali si botak menanyai Lucy tentang obat-obatan tadi. Dan ketika jawaban Lucy tidak memuaskan dirinya, si botak memutar tombol tadi lebih jauh. Lucy kembali menjerit kesakitan ketika getaran di puting susunya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan dan terus menyebar hingga menyakiti seluruh buah dadanya. Akhirnya rasa sakit itu menjalar keseluruh tubuhnya yang terkejang-kejang. Itu berlangsung selama beberapa menit, dan setiap kali si botak memutar tombol itu lebih jauh lagi setelah berhenti untuk beberapa detik. Dan setiap kali rasa sakit yang terasa membuat Lucy menjerit semakin keras. Kemudian si botak melepaskan salah satu jepitan buaya tadi dari puting susu Lucy dan menjepitkannya ke itil Lucy yang berwarna merah. Lucy sangat berharap ia bisa pingsan saat itu juga tapi tidak berhasil, dan ia harus merasakan rasa sakit yang kali ini menyerang puting susu dan itilnya sekaligus.

Lucy masih tetap tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan pada si botak. Dan ia hampir tidak bisa menahan rasa sakit karena aliran listrik yang dialirkan ke seluruh tubunya. Tetapi tetap saja kedua polisi tadi terus menyiksanya. Kaki Lucy terbuka lebar membuat lubang nonok itu terbuka terlihat jelas dengan tubuhnya yang tergantung. Si botak kemudian melepaskan jepitan buaya itu dari puting susu dan itil Lucy. Dan mengambil sebuah ******* ******an yang terbuat dari logam. Panjangnya sekitar 30 senti dengan diameter sekitar 5 senti. Si botak kemudian menyambungkan kabel yang tadi tersambung ke jepitan buaya tadi, ke pangkal ****** ******an tadi. Si botak kemudian mendekati Lucy. Ia mengacungkan ****** ******an tadi di wajah Lucy sambil mengulangi pertanyaannya soal obat tadi. Lucy sangat ingin menjawab pertanyaan itu, tapi ia sama sekali tidak tahu menahu soal obat-obatan terlarang yang selalu ditanyakan. Si botak kemudian menyalakan mesin tadi. Si botak memegang ****** ******an tadi pada pangkalnya yang dilapisi oleh karet dan plastik keras. Dan ujung ****** ******an tadi didekatkan pada nonok Lucy.

Si botak menyeringai ketika ia menempelkan ujung ****** ******an itu pada itil Lucy. Dan arus listrik kembali mengalir dari ****** ******an tadi ke itil Lucy. Tubuh Lucy kembali mengejang kesakitan ketika aliran listrik kembali mengalir ke seluruh tubuhnya. Lucy kembali menjerit kesakitan. Si botak kemudian mengarahkan ujung ****** ******an tadi ke bibir nonok Lucy dan memasukannya ke dalam nonok Lucy.

Rasa sakit karena aliran listrik tadi dan masuknya ****** ******an besar tadi yang membuka liang nonok dan merobek selaput daranya dengan brutal, membuat Lucy tidak bisa lagi bertahan, setelah dua puluh detik Lucy jatuh lemas dan pingsan.

Si botak terus menggerakan ****** ******an tadi keluar masuk ke nonok Lucy selama sepuluh detik lagi. Kemudian ia menarik ****** ******an itu keluar dan mematikan mesin tadi. Setalah ****** ******an itu lepas dari lubang nonok Lucy tampaklah lendir kental dan berwarna putih bening yang cukup banyak mengalir dari dalam nonok itu bercampur dengan darah keperawanan Lucy. Ia membiarkan Lucy yang tak sadarkan diri tetap tergantung dan berbalik mendekati Widi dan Nola. Kedua gadis itu melihat semua penyiksaan pada diri Lucy dengan penuh ketakutan. Mereka sangat ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi pada diri mereka selanjutnya.

Kedua polisi itu sudah menyadari ketiga gadis itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengedar obat terlarang tapi mereka memutuskan untuk tetap menanyai Widi dan Nola. Giliran selanjutnya adalah Widi. Widi dibawa ke tengah ruangan tepat disebelah Lucy dan diikat dengan cara yang sama dengan Lucy. Tapi tangan dan kakinya tidak terlalu ditarik hingga Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya di lantai. Dan Widi kembali ditanyai, dan jawaban yang di dapat tetap tidak memuaskan.

Si hitam mengambil sebuah kuda-kuda dari lemari. Kemudian ia memasang ****** ******an logam tadi pada kuda-kuda tadi hingga berdiri tegak dengan ujung menghadap ke atas. Si hitam kemudian mendorong kuda-kuda tadi hingga terletak diantara kedua kaki Widi yang terbuka. Si hitam kemudian merendahkan kuda kuda tadi untuk kemudian memasukan ****** ******an tadi ke dalam nonok Widi. Mesin tadi masih belum dinyalakan sehingga ****** ******an tadi tidak dialiri oleh listrik. Ketika kuda kuda tadi telah mencapai tingginya, ****** ******an tadi telah masuk sekitar 20 senti ke nonok Widi. Widi dengan kesakitan berusaha berjingkat untuk mengurangi rasa nyeri di selangkangannya.

Si botak kemudian mengambil sepasang jepitan dan menjepitkannya ke kedua puting susu Widi. Jepitan itu mempunyai desain khusus, sehingga setiap kali kabel yang ada diujungnya ditarik, jepitan itu akan semakin menjepit dengan gigi giginya yang tajam. Widi menjerit kesakitan ketika kedua puting susunya dijepit oleh jepitan tadi. Si botak kemudian memasukan kabel yang ada diujung jepitan itu pada gelang besi yang ada di langit langit hingga sekarang setiap kali kabel itu ditarik Widi akan menjerit kesakitan karena gigi jepitan itu menancap makin dalam di puting susunya. Dan kedua polisi tadi mulai penyiksaan pada Widi. Si hitam memulai dengan menanyai Widi. Dan setiap kali jawaban Widi tidak memuaskan, sebuah pemberat digantungkan pada ujung kabel tadi. Dengan pemberat tadi kabel itu langsung tertarik dan menyebabkan jepitan tadi makin menancap ke puting susu Widi. Dengan segera puting susu dan buah dada Widi tertarik oleh pemberat yang terus ditambah di ujung kabel tadi. Widi berusaha bergerak maju untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan, tapi kuda kuda dan ****** ******an yang dimasukan dalam nonoknya membuat ia tidak bisa bergerak. Setiap pemberat ditambah semakin keras Widi menjerit-jerit minta ampun. Jeritan Widi makin lama makin keras, karena Widi merasa puting susunya seakan telah dijepit hampir putus oleh jepitan tadi.

Akhirnya, si hitam mendekati mesin listrik tadi dan mulai menyalakannya. Tubuh Widi melonjak ketika aliran listrik tiba-tiba mengalir, membuat tubuhnya menarik jepitan itu mundur dan membuat puting susunya makin sakit. Setiap lima detik sekali sebuah kejutan listrik mengalir melalui ****** ******an tadi. Dan si botak terus menambah pemberat di ujung kabel jepitan tadi. Si hitam terus menanyai Widi, tapi Widi terlalu kesakitan untuk bisa menjawab setiap pertanyaan. Widi hanya bisa menagis dan menjerit-jerit, berteriak minta ampun setiap kali kejutan listrik itu mengaliri tubuhnya. Kedua polisi tadi akhirnya memutuskan bahwa Widi tidak bisa memberikan keterangan apapun. Aliran listrik tadi mulai dilemahkan kekuatannya hingga tidak sekuat tadi, tapi Widi tetap dibiarkan tergantung pada posisi seperti semula, sementara kedua polisi itu mendekati Nola untuk mulai menanyainya.

Lucy masih tergantung tak sadarkan diri, sementara Widi dengan kaki terbuka, dan ****** ******an logam dengan aliran listrik dimasukan dalam nonoknya, dan Nola mulai dipersiapkan untuk mulai ditanyai. Kedua polisi tadi menurunkan Lucy dan memborgolnya untuk kemudian menggantungkan borgol tadi pada gelang besi di dinding dan kakinya yang tergantung diikat pada gelang besi di lantai. Borgol di tangan Nola dilepaskan dan Nola digiring ke tengah ruangan tepat di tempat Lucy tergantung tadi. Nola diperintahkan untuk berbaring terlentang. Kemudian kedua pergelangan kakinya diikat dengan tali yang tergantung pada gelang di langit-langit. Kemudian tali-tali itu ditarik, menyebabkan Nola tergantung dengan kepala di bawah, dan kakinya di atas terbuka lebar. Kepala Nola tergantung sekitar 15 senti dari lantai, dan kedua tangannya diikatkan pada gelang besi yang ada di lantai.

Si hitam mulai menanyai Nola, masih tentang pengedar obat terlarang. Si hitam menyadari Nola juga tidak akan bisa memberinya informasi, tapi ia dan si botak akan tetap menanyainya untuk memuaskan mereka.

Si botak mendekati Nola dari belakang. Dengan posisi tergantung terbalik dan kaki terbuka lebar, nonok Nola terlihat jelas oleh si botak. Kemudian ia mengambil pentung polisi yang dibawanya dan memasukkanya ke dalam nonok Nola. Nola menjerit-jerit kesakitan, berteriak memohon si botak berhenti menyakiti dirinya, tapi si botak tidak mempedulikannya. Ia malah terus menekan petungannya makin dalam ke nonok Nola. Nola meronta-ronta menarik-narik ikatan di tangannya tanpa hasil. Ia mulai menggerakan pentungan itu keluar masuk nonok Nola, sementara si hitam melihatnya sambil tertawa senang. Si botak akhirnya menarik pentungan itu keluar dan memasukan jarinya ke dalam nonok Nola untuk memeriksa apakah nonok Nola sudah mengeluarkan cairan.

Si botak melihat selain cairan lendir birahi menempel pada jarinya, darah perawan Nola terlihat melumuri jarinya. Si hitam masih terus menanyai Nola tanpa bisa dijawab oleh Nola. Ia kemudian mengambil sebuah pecut. Pegangan pecut tadi adalah sebuah ****** ******an dan pecut itu terdiri dari sepuluh jalinan sekaligus dengan panjang sekitar 40 senti. Si hitam memperlihatkan pecut itu pada Nola, dan Nola kembali menjerit-jerit minta ampun. Ia hanya tersenyum dan kembali menanyainya. Ketika Nola masih tidak bisa menjawab, Ia mendekati Nola dan mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sepuluh jalinan pecut tadi tepat mendarat di nonok Nola, berlanjut ke perutnya. Rasa sakit yang ditimbulkan membuat Nola tersentak dan tidak bisa bernafas selama beberapa detik. Selanjutnya jerit kesakitan Nola terdengar melengking. Ia terus mengayunkan pecutnya ke selangkangan Nola. Sebelum akhirnya ia berhenti sejenak beristirahat. Sedangkan Nola terus menjerit-jerit ketika rasa sakit di nonoknya terus menyegat menyakiti seluruh tubuhnya. Ketika jeritan Nola berhenti, kembali ia mengajukan pertanyaan. Ketika masih tidak bisa dijawab oleh Nola, empat ayunan pecut kembali diayukan ke selangkangan Nola. Jeritan Nola kembali terdengar. Nola tak berdaya melindungi dirinya. Dan ia tidak bisa menjawab pertanyaan si hitam untuk bisa menghentikan ia terus memecuti dirinya. Nola masih terus dipecut untuk beberapa menit kemudian.

Akhirnya kedua polisi tadi berhenti dan menjauhi Nola sambil berdiskusi. Mereka berbisik dan menunjuk nunjuk ketiga gadis itu, kadang tertawa senang, sampai akhirnya mencapai sebuah keputusan. Si botak mengambil sebuah botol minuman keras dari lemari. Kedua polisi itu masing-masing meneguk botol itu, sebelum mereka kembali mendekati ketiga gadis itu. Tangan Nola dilepaskan dari ikatan di lantai. Kemudian kedua pergelangan tangan Nola diikat dengan tali yang tergantung pada langit-langit. Ketika tali-tali itu ditarik dan dikencangkan, Nola sudah tergantung pada kaki dan tangannya. Posisi tubuh Nola tergantung dengan bagian depan menghadap ke atas, kepalanya terdongak tergantung, dengan ketinggian tepat untuk diperkosa. Sedangkan Widi hampir kehabisan nafas, setelah sekian lama disengat oleh aliran listrik setiap lima detik sekali. Setiap kali listrik itu mneyengat rintihan terdengar dari bibir Widi yang memucat. Si hitam kemudian mematikan mesin listrik tadi, membuat tubuh Widi terjatuh lemah lunglai, membuat ****** ******an logam tadi terbenam makin dalam ke nonok Widi, dan Widi mengerang kesakitan. Tubuhnya masih tergantung dengan tangan terikat ke langit langit dan kakinya masih terbuka lebar.

Kuda kuda tadi dipindahkan, ****** ******an logam juga dikeluarkan dari nonok Widi. Ikatan pada kaki Widi dikendorkan, sedangkan tali pada pergelangan tangan Widi ditarik. Sekarang Widi tergantung terangkat dari lantai dengan kaki terbuka lebar dan seluruh berat badannya bergantung pada ikatan pada tangannya. Persis dengan posisi Lucy pada permulaan tadi. Widi baru berusaha mengumpulkan tenaganya kembali ketika si botak mendekati dirinya. Ia kemudian menuangkan minuman keras dari botol yang dipegangnya ke dalam mulut Widi. Widi menelan cairan itu, lalu terbatuk-batuk ketika tenggorokannya terasa panas karena minuman itu.

Kemudian ikatan pada tangan Widi dilepaskan dan Widi dibantu untuk berdiri di kedua kakinya. Ia terus menuangkan minuman keras ke mulut Widi, perlahan pucat dari wajah Widi mulai menghilang. Ketika kesadaran Widi pulih seluruhnya, ia melihat Lucy yang tergantung di dinding dan Nola yang digantung pada kedua tangan dan kakinya di tengah ruangan. Kedua polisi tadi telah melepaskan seluruh pakaiannya.

Si botak kemudian mendorong tubuh Widi hingga jatuh berlutut.
Kemudian si botak mendekatkan ******nya yang masih lemas ke mulut Widi dan memerintahkannya untuk mengulum ****** itu. Widi teringat pada sebuah film dewasa yang pernah dilihatnya bersama Lucy dan Nola, dan ia menyadari apa yang diinginkan oleh polisi itu, Widi juga terlalu takut untuk menolak perintah itu. Widi kemudian memasukan ****** itu dalam mulutnya dan mulai mengulumnya membuat ****** itu mengeras dan membesar. Si hitam berbalik mendekati Nola. Kepala dan nonok Nola tepat tergantung setinggi pinggang si hitam. Ia kemudian mendekati kepala Nola. Nola berusaha mengangkat kepalanya berusaha melihat semua yang dilakukan oleh kedua polisi tadi. Si hitam menarik kepala Nola hingga terdongak ke atas lagi dan mendekatkan ******nya pada mulut Nola. Nola juga menuruti kemauannya, mengulum dan menjilati ******nya, takut akan apa yang mungkin akan terjadi jika ia menolaknya.

Kedua ****** polisi tadi segera mengeras dan membesar. Keduanya sudah sangat bernafsu. Si botak yang sedang memperkosa mulut Widi sedang bersiap-siap untuk memperkosa Lucy. Karena tubuh Lucy yang tergantung tinggi dari lantai, ia membutuhkan sebuah kotak untuk bisa menambah tingginya hingga ******nya bisa masuk ke nonok Lucy.

Tapi ternyata kotak itu terlalu tinggi hingga terpaksa ia menekuk kakinya untuk bisa mengarahkan kepala ******nya ke bibir nonok Lucy. Ketika ia meluruskan kakinya, penisnya terdorong masuk ke nonok Lucy yang terluka karena penyiksaan tadi. Lucy kembali mengeluarkan jerit kesakitan. Kakinya yang terikat erat membuat ia tidak ikut terangkat ke atas ketika ****** si botak mulai masuk ke nonoknya. Si botak mulai bergerak keluar masuk, membuat nonok Lucy yang sudah terluka bertambah sakit dan nyeri. Ia terus bergerak selama beberapa menit sebelum akhirnya mengerang dan menyemburkan pejunya ke dalam nonok Lucy. Si hitam sudah mulai memperkosa Nola. Dengan tubuh tergantung demikian, ia dengan mudah dapat berdiri di antara kedua kaki Nola dan memasukan ******nya ke dalam nonok Nola. Tali-tali yang mengikat Nola membuat tubuh Nola dapat berayun ke segala arah. Si hitam berdiri tepat di depan selangkangan Nola. Ia memasukan dua jarinya ke dalam nonok Nola dan mulai menggerakannya keluar masuk sampai cairan keluar dari nonok Nola. Ia kemudian mendekat dan memasukan ******nya ke dalam nonok Nola. Tubuh Nola mulai berayun ke depan. Ia memegangi pinggang Nola dan menariknya kembali ke belakang membuat ******nya terbenam makin dalam ke nonok Nola. Kemudian si hitam hanya perlu berdiri dan memegangi pinggang Nola sambil menarik dan mendorong tubuh Nola ke depan dan ke belakang membuat ******nya keluar masuk nonok Nola. Ia terus menikmati nonok Nola untuk beberapa saat. Sedangkan Nola hanya bisa berteriak kesakitan setiap kali ****** yang besar menerobos masuk ke nonoknya yang masih sempit. Akhirnya setelah beberapa menit si hitam mencapai orgasme, dan menyemprotkan pejunya ke nonok Nola.

Kedua polisi itu sudah puas dengan orgasme pertama mereka, dan mereka berdua bersiap untuk kembali mempermaikan ketiga gadis itu lagi. Widi, Nola dan Lucy masing-masing diberi minuman keras oleh mereka untuk menyadarkan mereka dari shock perkosaan yang baru mereka alami. Lucy dan Nola dibiarkan tergantung pada posisi mereka ketika diperkosa tadi. Si hitam mendekati lemari dan kembali dengan membawa sebuah alat kejutan listrik. Di ujung alat yang berbentuk seperti ketapel itu terdapat bulatan lugam. Jika bulatan logam itu ditempelkan pada tubuh seseorang maka tubuh orang itu akan disengat oleh aliran listrik yang kuat. Ia mendekat pada Widi dan menempelkan ujung alat itu pada pantat Widi. Kejutan listrik yang terjadi membuat tubuh Widi terlompat dan mengejang disertai jerit kesakitan Widi.

Kemudian Widi ditarik mendekat pada Lucy. Widi berlutut di hadapan Lucy. Kemudian ia diperintahkan untuk memasukan jarinya ke nonok Lucy. Widi mulanya menolak, tapi ia berubah pikiran melihat ujung alat yang dipegang oleh si hitam mendekat ke susunya. Widi mulai memasukan dua buah jarinya ke nonok Lucy yang baru saja diperkosa oleh si botak. Jari Widi dengan mudah masuk karena peju si botak masih terlihat mengalir keluar dari nonok Lucy. Si hitam kemudian memerintahkan agar Widi memasukan satu jari lagi. Tiga jari Widi masih dapat dengan mudah masuk ke nonok Lucy. Ketika Widi mendorong masuk keempat jarinya sekaligus, nonok Lucy mulai terasa sempit. Widi harus mendorong lebih keras agar jari-jarinya bisa masuk, yang mengakibatkan Lucy mengerang kesakitan. Akhirnya dengan dorongan keras keemapt jari Widi bisa masuk ke nonok Lucy. Setelah itu si hitam akhirnya menyuruh Widi memasukan seluruh jari dan tangannya masuk ke nonok Lucy.

Widi menarik jarinya dari nonok Lucy dan menggelengkan kepalnya menolak perintah si hitam. Ujung alat si hitam menempel ke buah dada Widi. Widi berteriak kesakitan, dan tubuhnya terlempar ke lantai. Ia terus mendekati tubuh Widi. Alat itu selanjutnya menempel di selangkangan Widi. Widi kembali berteriak kesakitan. Widi kemudian merangkak mendekati Lucy yang tergantung di dinding. Ketika tubuh Widi kembali disentuh oleh alat tadi, Widi memasukan seluruh jarinya ke nonok Lucy. Lucy menjerit-jerit kesakitan. Widi berusaha keras agar dirinya tidak disakiti lagi oleh si hitam, berusaha memasukan tangannya ke nonok Lucy yang makin lama menjerit makin keras dan memilukan. Widi terus berusaha mendorong kelima jarinya masuk ke nonok Lucy, perlahan berusaha mengurangai rasa sakit yang diderita oleh Lucy. Tapi tangan Widi adalah benda terbesar yang pernah berusaha masuk ke nonok Lucy. Dan ketika bibir nonok Lucy melebar berusaha dimasuki oleh tangan Widi, rasa sakit yang ditimbul semakin menjadi-jadi.

Akhirnya dengan satu dorongan keras seluruh jari Widi masuk ke dalam nonok Lucy. Ketika pangkal ibu jari Widi masuk bersamaan dengan keempat jari Widi dan membuat bibir nonok Lucy membuka tambah lebar, Lucy berteriak dan menronta-ronta kesakitan. Ketika seluruh telapak tangan Widi masuk, bibir nonok Lucy menjepit erat pergelangan tangan Widi. Widi dapat merasakan bagian dalam nonok Lucy berdenyut-denyut. Sedangkan Lucy merasa dirinya seperti hamil merasakan tangan Widi masuk seluruhnya. Si hitam kemudian menempelkan kembali alat listrik tadi ke susu Widi. Ketika tubuh Widi terlompat kesakitan, tangan Widi tertarik dari nonok Lucy. Tangan Widi tertarik sebagian keluar dan tersangkut pada nonok Lucy. Lucy kembali menjerit kesakitan. Sedangkan Widi hanya bisa menangis. Perlahan Widi berhasil menguasai dirinya dan menyadari sebagian tangannya masih ada di dalam nonok Lucy. Widi kemudian berusaha menarik tangannya dan setelah beberapa saat tangan itu berhasil ditariknya keluar dari nonok Lucy. Lucy terus berteriak dan menjerit kesakitan sementara si botak dan si hitam menonton sambil tertawa senang melihat Lucy meronta-ronta kesakitan. Si hitam kemudian mendekatkan alatnya pada nonok Lucy. Jeritan Lucy, terdengar seperti binatang yang sangat kesakitan, melolong tinggi. Lucy terus dibiarkan tergantung pada dinding. Sementara itu Lucy sendiri masih terus menangis dan merintih kesakitan, merasakan nonoknya yang bagaikan terobek oleh masuknya tangan Widi tadi.

Kedua polisi itu bersiap untuk menyiksa Widi sekarang. Pertama-tama mereka membawa Widi kembali ke tengah ruangan. Si botak kemudian mengambil sebuah benda yang membuat wajah Widi memucat ketakutan. Benda itu berupa logam sepanjang satu meter dengan dua buah ****** ******an logam dilas pada tengah-tengahnya. ****** ******an yang satu berukuran besar, sekitar 25 senti panjang dan berdiameter 10 senti. Yang satu lagi panjangnya 15 senti dan berdiameter sekitar 3 senti. Tangan Widi kembali diborgol ke belakang. Kedua puting susunya dijepit oleh jepitan yang pernah dijepitkan pada puting susunya tadi. Jepitan yang akan menjepit makin keras jika kabel yang ada diujungnya ditarik. Kembali Widi menjerit ketika puting susunya yang sekarang berwarna ungu kembali dijepit oleh jepitan buaya itu. Kemudian kabel tadi ditarik dan kemudian diikatkan pada gelang besi yang ada di langit-langit. Sekarang puting susu dan susu Widi tertarik keatas sehingga Widi berusaha berjinjit untuk mengurangi rasa sakit yang timbul. Selanjutnya batang besi tadi diletakan diantara kedua kaki Widi dengan ****** ******an yang berukuran besar di depan. Tali-tali dari langit-langit diikatkan pada kedua ujung batang logam tadi dan untuk kemudian tali itu ditarik hingga batang logam tadi terangkat ke atas, menuju ke arah nonok dan dubur Widi. ****** ******an yang besar bersentuhan dengan bibir nonok Widi. Si hitam mengarahkan agar ujung ****** ******an logam itu tepat di liang nonok Widi. Si botak terus menraik tali yang mengikat batang tadi. ****** ******an itu mulai membuka bibir vagina Widi dan menerobos masuk. Widi menjerit kesakitan ketika nonoknya melebar berusaha dibuka oleh ****** ******an logam tadi yang terus masuk karena batang tadi ditarik ke atas oleh si botak. Kemudian ****** ******an yang lebih kecil mulai menempel ke liang dubur Widi. Widi menjerit ketakutan menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika ****** ******an kecil itu mulai menempel, tubuh Widi ikut terangkat ke atas. Liang duburnya tidak membuka untuk ****** ******an yang kecil itu. Tapi berat tubuh Widi, membuat tubuh Widi yang pada mulanya ikut terangkat perlahan turun. Dan itu menyebabkan liang dubur Widi mulai membuka perlahan dimasuki oleh ****** ******an kecil tadi. Rasa sakit yang dirasakan oleh Widi tak terkira. Widi belum pernah merasakan satu bendapun masuk ke dalam duburnya yang kecil dan sempit. Tapi sekarang liang dubur itu terbuka perlahan, diterobos oleh ****** ******an logam itu. Untuk sesaat Widi melupakan ****** ******an besar yang juga terus terbenam masuk ke nonoknya karena sakit yang terasa amat sangat terdapat pada duburnya. Perlahan seluruh ****** ******an tadi terbenam seluruhnya ke nonok dan dubur Widi. Tapi logam itu terus terangkat membuat tubuh Widi juga ikut terangkat dari lantai.

Dengan tangan terborgol ke belakang Widi tidak bisa menjaga keseimbangannya ketika tubuhnya terangkat dari lantai. Tubuh Widi mulai terjatuh ke depan, sampai akhirnya tertahan oleh kabel yang terikat pada jepitan di puting susu Widi. Widi menjerit-jerit ketika jepitan itu menjepit makin dalam karena tertarik oleh tubuhnya yang jatuh ke depan. Widi terus menerus menjerit sampai akhirnya tubuh Widi benar-benar terangkat dari lantai dengan tergantung pada kabel yang ada di puting susunya dan dua ****** ******an yang masuk dan mengangkat tubuhnya dari lantai. Ketika selesai, tubuh Widi tergantung sekitar satu meter dari lantai. Kedua polisi itu bergantian mendorong tubuh Widi hingga terayun-ayun membuat Widi menjerit kesakitan karena kabel jepitan yang ada di puting susunya ikut tertarik. Puting susu dan buah dada Widi tampak memerah dan kemudian berubah menjadi ungu karena terus menerus ditarik dan dijepit makin keras. Akhirnya mereka puas mendengar jerit kesakitan dari Widi. Mereka menurunkan batang logam tadi sehingga sekarang Widi bisa berdiri di atas kedua kakinya tapi kedua ****** ******an yang jepitan tadi masih ada di tempatnya masing-masing.

Penyiksaan pada diri Widi membuat nafsu pada kedua polisi itu bangkit lagi. Satu-satunya gadis yang masih tersisa adalah Nola, yang masih tergantung terlentang pada kaki dan tangannya. Mereka berdua mendekati Nola. Si hitam mendekati kepala Nola sedangkan si botak berdiri di depan selangkangan Nola. Si hitam memasukan ******nya yang masih lemas ke mulut Nola, sementara si botak memasukan tiga jarinya ke dalam nonok Nola dan melebarkan bibir nonok Nola. Nola meronta kesakitan, tapi ia hanya bisa berayun-ayun dalam ikatannya, sedangkan mulutnya sudah dipenuhi oleh ****** yang terus membesar dan mengeras. Ketika ****** telah mengeras seluruhnya, ia memberi tanda pada si botak dan mereka bertukar tempat.

Mereka mulai memperkosa Nola secara bersamaan. Sebuah ****** yang lemas kembali masuk ke dalam mulutnya dan ****** si hitam yang keras dan tegang masuk ke dalam nonoknya. Kembali tubuh Nola berayun kedepan dan belakang. Dan ketika ****** si botak telah mengeras seluruhnya ia mendorong ****** itu makin dalam ke tenggorokan Nola. Dalam sesaat nonok dan tenggorokan Nola mulai diperkosa oleh ****** si hitam dan si botak. Setelah beberapa menit kedua polisi itu mencapai puncak dan keduanya menyemburkan pejunya ke nonok dan mulut Nola.

Ketiga gadis itu tergantung kesakitan dalam ruangan itu. Lucy tergantung di dinding. Kakinya terikat pada lantai dan terbuka lebar. Tangannya terasa sakit karena terikat dan menanggung berat tubuhnya. Widi berdiri dengan tangan terborgol ke belakang. Jepitan pada puting susunya membuat Widi tidak berani bergerak sedikitpun. Dan di antara kedua kakinya terdapat batang logam dengan dua buah ****** ******an logam yang terbenam masuk ke nonok dan duburnya. Nola terikat dan tergantung pada kedua kai dan tangannya. Nonoknya teluka karena dipecuti dan dirinya baru diperkosa secara bersamaan.

Setelah beristirahat sejenak kedua polisi tadi mulai lagi membuat ketiga gadis itu saling menyiksa temannya masing-masing. Nola diturunkan dari ikatan. Si hitam memberinya minuman keras untuk memulihkan seluruh kesadarannya. Ia kemudian menyerahkan pecut yang tadi dipergunakannya pada Nola sendiri. Sedangkan Lucy serta Widi masih terikat dan tergantung di ruangan itu. Si hitam kemudian memerintahkan Nola agar mulai memecuti mereka, sampai mereka menyuruh Nola berhenti. Dan jika ia tidak menuruti perintah itu, Noal sendir yang akan merasakan pecut itu sekali lagi. Nola tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah itu.

Nola mendekati tubuh Lucy yang masih tergantung. Seluruh tubuh Lucy terpampang dan dapat dipecuti oleh Nola. Nola berbisik mohon maaf ketika dirinya makin dekat dengan Lucy. Dengan ragu-ragu ia mengayunkan pecutnya ke paha Lucy. Lucy menjerit kesakitan, tapi si hitam berteriak agar Nola mengayunkan pecut itu lebih keras lagi. Kembali Nola mengayunkan pecutnya ke paha Lucy, yang membuat Lucy menjerit lebih keras lagi. Hitam kemudian merampas pecut itu dari tangan Nola dan menyuruh Nola membungkukan badannya. Nola terdiam. Si hitam mengancam akan menghukum Nola lebih menyakitkan jika Nola tidak menuruti perintahnya. Nola berbalik dan membungkukan badannya. Si hitam mengayunkan pecut tadi sekuat tenaga mengarah pada pantat Nola. Nola menjerit dan jatuh tersungkur ke lantai, tangannya menutupi bekas merah yang timbul pada pantatnya. “Bangun!” si hitam berteriak. Tubuh Nola tidak bertenaga untuk bangkit setelah pecutan yang sangat menyakitkan tadi. Ketika melihat Nola tetap berbaring di lantai ia mulai mengayukan pecutnya lagi. Pecut itu mendarat di perut Nola kemudian pada punggung Nola. Nola berusaha bangkit untuk menghentikan pecutan tersebut. Dan ketika ia berhasil berdiri dengan sempoyongan, ia menghentikan pecutannya.

Ia menunggu hingga Nola membungkuk lagi. Pecutan yang datang lebih keras dari sebelumnya. Nola berusaha bertahan dengan menggigit bibirnya agar tidak tersungkur lagi. Ia terus menjerit kesakitan tapi tetap berdiri membungkuk. Ia kemudian menyerahkan pecutnya kembali ke Nola dan menyuruhnya agar menggunakan tenaganya.

Nola mengambil pecut itu dan berjalan tertatih-tatih mendekati Lucy. Pantatnya terasa sangat sakit dan ia tidak ingin si hitam kembali memecutnya. Nola kemudian mengayunkan pecut pada paha Lucy sekuat tenaganya. Lucy kembali menjerit. Si hitam mengangguk dan melihat Nola mengayunkan pecutnya lagi. Kembali jeritan Lucy terdengar.

Ia kemudian menyuruh Nola memecuti Lucy dari depan. Nola menangis selain karena sakit yang dirasakannya pada pantatnya, juga karena ia menyiksa sahabatnya Lucy. Nola mengayunkan pecutnya ke puting susu Lucy. Lucy menjerit dan mengejang. Kembali pecut itu mendarat di puting susu Lucy. Selanjutnya pecut itu mengarah ke nonok Lucy. Jeritan Lucy makin tinggi dan keras sekarang. Ia membiarkan Nola memecuti puting susu dan nonok Lucy untuk beberapa saat. Si hitam kemudian memerintahkan agar Nola memasukan gagang pecut yang berbentuk ****** itu ke nonok Lucy. Nola memandang gagang itu ketakutan, tapi si hitam mendekatinya membuat ia segera melaksanakan perintah tadi. Nola mulai mendorong gagang pecut tadi masuk ke nonok Lucy. Lucy mengerang kesakitan ketika dirasakannya ujung gagang itu mulai memasuki nonok yang terluka tadi. Nola perlahan berhasil memasukan sekitar 20 senti dari gagang itu ke dalam nonok Lucy. Sementara Lucy terus merintih kesakitan.

Si hitam kemudian menyuruh Nola menggerakan gagang pecut itu. Nola segera menggerakan gagang pecut tadi keluar masuk nonok Lucy. Lucy menrintih dan meronta-ronta ketika nonok yang telah terluka karena tangan Widi tadi kembali digesek-gesek oleh gagang pecut yang kasar. Nola terus menggerakan gagang tadi selama beberapa menit, sebelum si hitam menyuruhnya untuk berhenti.

Si botak kemudian mendekati Lucy dan melepaskan ikatannya. Tubuh Lucy langsung ambruk ke tanah. Memau-memar dan garis-garis merah terlihat di sekujur tubuh Lucy. Ia kembali menuangkan minuman keras ke mulut Lucy untuk menyadarkannya. Setelah beberapa saat Lucy mampu berdiri di atas kakinya. Sementara itu Nola kembali diperintahkan untuk memecuti tubuh Widi. Nola mengayunkan pecutnya ke punggung Widi. Tubuh Widi terlonjak sehingga puting susunya makin terjepit dan membuat ia berteriak kesakitan. Nola memecut Widi sebanyak empat kali. Perut, pantat, dan susunya mendapat pecutan dari Nola dan Widi menangis keras ketika akhirnya Nola berhenti.

Widi kemudian dilepaskan. Jepitan dari puting susunya dilepaskan dan kedua tangannya juga dibebaskan dari borgol. Widi berusaha mengeluarkan kedua ****** ******an tadi dari nonok dan duburnya tapi ia merasa kesakitan setiap kali ia berusaha menariknya keluar. Akhirnya si botak dan si hitam secara bersamaan menarik batang loga tadi dengan brutal. Ketika mereka menarik batang logam tadi, kedua ****** ******an itu tertarik keluar dan membuat Widi menjerit, dan terlihat darah melumuri kedua ****** ******an tadi. Widi menutupi nonok dan duburnya denga tangannya berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Sekarang ketiga gadis itu telah selesai disiksa oleh si botak dan si hitam. Kelima orang di ruangan itu semuanya telanjang bulat. Ketiga gadis itu telah dibebaskan dari semua ikatan mereka. Kedua polisi itu lalu berpakaian kembali, dan memakaikan pakaian penjara kepada ketiga gadis itu. Sekarang mereka bertiga terbaring lemah dalam sebuah sel yang terkunci. Si botak dan si hitam akan mulai menanyai mereka lagi keesokan harinya.

ABG dengan Toket yang Gede

Kejadian ini berlangsung beberapa minggu yang lalu. Saat itu, hari Jumat sore, aku sedang mengerjakan salah satu proyekku. Seperti biasa untuk refreshing, sambil menyeruput secangkir kopi, aku membaca email email yang masuk. Segera kubalas email permintaan proposal dari pelanggan, dan aku pun kadang tertawa geli membaca email-email joke dari teman-temanku. Tetapi ada satu email yang menarik perhatianku, yaitu dari temanku yang tinggal di Bogor, Andi. Dia sedang suntuk dan mengajakku untuk refreshing ke Puncak saat aku tidak sibuk. Kebetulan besok aku tidak ada acara, hanya perlu mengambil pembayaran ke salah satu klienku. Terlebih lagi Monika, pacarku, juga sedang keluar kota bersama keluarganya.

Aku segera mengambil HP-ku dan menelpon Andi, temanku itu.

“Di.., OK deh gue jemput lu ya besok.. Mumpung cewek gue sedang nggak ada”
“Gitu donk.. Bebas ni ye.. Emangnya satpam lu kemana?”
“Ke Surabaya.. Ada saudaranya kawinan”
“Besok jangan kesiangan ya datangnya.. Jam 11-an deh”
“OK”

Setelah itu kunyalakan sebatang rokok, dan kuteruskan pekerjaanku.

*****

Pagi itu, aku berangkat ke Bogor. Dalam perjalanan, aku mampir ke tempat salah satu klienku di daerah Tebet, untuk mengambil pembayaran proyek yang telah kuselesaikan. Setelah mengambil cek pembayaran, segera aku menuju tol Jagorawi. Sialnya ban mobilku sempat kempes, untungnya hal itu terjadi sebelum aku masuk jalan tol. Akibatnya, sekalipun aku telah memacu mobilku, baru sekitar jam 12.30 aku sampai di rumah Andi.

“Sialan lu.. Gue udah tunggu-tunggu dari tadi, baru dateng”. Andi berkata sedikit kesal ketika membuka pintu rumahnya.
“Sorry.. Gue perlu ke klien dulu.. Udah gitu tadi bannya kempes, mesti ganti ban dulu di tengah jalan”
“Anterin gue tambal ban dulu yuk.. Baru kita cabut” sambungku lagi.
“Bentar.. Gue ganti dulu ya”. Andi pun kemudian ngeloyor pergi ke kamarnya.

Sambil menunggu, aku membaca koran di ruang tamu. Tak lama Siska, adik Andi, datang membawa minuman.

“Kok udah lama nggak mampir Mas?”
“Iya Sis, habis sibuk.. Mesti cari duit nih” jawabku.
“Mentang-mentang udah jadi pengusaha.. Sombong ya” godanya sambil tertawa kecil. Siska ini memang cukup akrab denganku. Anaknya memang ramah dan menyenangkan. Kami pun bersenda gurau sambil menunggu kakaknya yang sedang bersiap.

Setelah Andi muncul, kami segera berangkat menuju tukang tambal ban terdekat. Setelah beres, aku membawa mobilku menuju sebuah bank swasta untuk mencairkan cek dari klienku. Antrian lumayan panjang hari itu, akibatnya cukup lama juga kami menghabiskan waktu di sana.

Saat keluar dari bank tersebut, jam telah menunjukkan pukul 14.00 siang, sehingga aku mengajak Andi mampir ke sebuah restoran fast food untuk makan siang. Di restoran itu, kami bertemu dengan dua gadis ABG cantik yang masih berseragam SMA. Yang seorang berambut pendek, dengan wajah yang manis. Tubuhnya tinggi langsing, dengan kulit agak hitam, tetapi bersih. Sedangkan yang satu berwajah cantik, berkulit putih dan berambut panjang. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi yang paling menarik perhatian adalah tubuhnya yang padat. Payudaranya tampak besar menerawang di balik seragam sekolahnya. Kami tersenyum pada mereka dan mereka pun membalas dengan genit.

“Wan.. Kita ajak mereka yuk..” kata Andi.
“Boleh aja kalau mereka mau” jawabku.
“Tapi lu yang traktir ya bos.., kan baru ngambil duit nih”
“Beres deh”

Andi pun kemudian menghampiri mereka dan mengajak berkenalan. Memang Andi ini pemberani sekali dalam hal begini. Dia memang terkenal playboy, punya banyak cewek. Hal itu didukung dengan perawakannya yang lumayan ganteng.

“Lisa..” kata gadis berambut pendek itu saat mengenalkan dirinya.
“Ini temannya siapa namanya” tanyaku sambil menatap gadis seksi temannya.
“Novi” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya. Langsung kusambut jabatan tangannya yang halus itu.

Aku dan Andi lalu pindah ke meja mereka. Kami berempat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan masing-masing. Ketika diajak, mereka setuju untuk jalan-jalan bersama ke Puncak. Setelah selesai makan, waktu berjalan menuju mobil, kulihat payudara Novi tampak sedikit bergoyang-goyang saat dia berjalan. Ingin rasanya kulumat habis payudara gadis belia itu.

*****

Setelah berjalan-jalan di Puncak menikmati pemandangan, kami pun cek in di sebuah motel di sana.

“Lu kan yang traktir Wan.. Lu pilih yang mana?” bisik Andi saat kami sedang mengurus cek-in. Memang sebelumnya aku yang janji akan traktir, karena aku baru saja menerima pembayaran dari salah satu proyekku.
“Novi” jawabku pendek.
“Hehe.. Lu nafsu liat bodynya ya?” bisik Andi lagi sambil tertawa kecil. Setelah itu, kamipun segera cek-in. Kugandeng tangan Novi, sedangkan Andi tampak merangkul bahu Lisa menuju kamar.

Setelah kukunci pintu kamar, tak sabar langsung kudekap tubuh Novi. Langsung kucium bibirnya dengan penuh gairah. Tanganku dengan gemas meremas gundukan payudaranya. Setelah puas menciumi bibirnya, kuciumi lehernya, dan kemudian segera kubuka kancing baju seragamnya.

“Iih Mas.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya?” godanya.

Tak kuhiraukan perkataannya, langsung kuangkat cup BH-nya yang tampak kekecilan untuk menampung payudaranya yang besar itu. Langsung kuhisap dengan gemas daging kenyal milik Novi, gadis SMA cantik ini.

“Ahh.. Ahh” erangnya ketika puting payudaranya yang telah mengeras kujilati dan kuhisap. Tangan Novi mengangkat payudaranya, sambil tangannya yang lain menekan kepalaku ke dadanya.
“Enak Mas.. Ahh” erangnya lebih lanjut saat mulutku dengan ganas menikmati payudara yang sangat menggoda nafsu birahiku.
“Jilati putingnya Mas..” pintanya. Erangannya semakin menjadi dan tangannya menjambak rambutku ketika kuturuti permintaannya dengan senang hati.

Puas menikmati payudara gadis belia ini, kembali kuciumi wajahnya yang cantik. Lalu kutekan bahunya, dan diapun mengerti apa yang aku mau. Dengan berjongkok di depanku, dibukanya restleting celanaku. Tak sabar, kubantu dia membuka seluruh pakaianku.

“Ih.. Mas, gede banget..” desahnya lirih ketika penisku mengacung tegak di depan wajahnya yang cantik. Dielusnya perlahan batang kemaluanku itu.
“Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?”
“Belum Mas.. Punya cowok Novi nggak sebesar ini.” jawabnya. Tampak matanya menatap gemas ke arah kemaluanku.
“Arghh.. Enak Nov..” erangku ketika Novi mulai mengulum kepala penisku.

Dijilatinya lubang kencingku, dan kemudian dikulumnya penisku dengan bernafsu. Sementara itu tangannya yang halus mengocok batang penisku. Sesekali diremasnya perlahan buah zakarku. Rasa nikmat yang tiada tara menghinggapi tubuhku, ketika gadis cantik ini memompa penisku dengan mulutnya. Kulihat kepalanya maju mundur menghisapi batang kejantananku. Kuusap-usap rambutnya dengan gemas. Karena capai berdiri, akupun pindah duduk di kursi. Novi kemudian berjongkok di depanku.

“Novi isap lagi ya Mas.. Novi belum puas..” katanya lirih.

Kembali mulut gadis belia ini menghisapi penisku. Sambil mengelus-elus rambutnya, kuperhatikan kemaluanku menyesaki mulutnya yang mungil. Ruangan segera dipenuhi oleh eranganku, juga gumaman nikmat Novi saat menghisapi kejantananku. Saat kepalanya maju mundur, payudaranya pun bergoyang-goyang menggoda. Kuremas dengan gemas bongkahan daging kenyal itu.

“Nov.., jepit pakai susumu Nov..” pintaku.

Novi langsung meletakkan penisku di belahan payudaranya, dan kemudian kupompa penisku. Sementara itu tangan Novi menjepitkan payudaranya yang besar, sehingga gesekan daging payudaranya memberikan rasa nikmat luar biasa pada penisku.

“Yes.. Yes..” akupun tak kuasa menahan rasa nikmatku. Setelah beberapa lama, kusodorkan kembali penisku ke mulutnya, yang disambutnya dengan penuh nafsu.

Setelah puas menikmati mulut dan payudara gadis SMA ini, kuminta dia untuk bangkit berdiri. Kuciumi lagi bibirnya dan kuremas-remas rambutnya dengan gemas. Tanganku melepas restleting rok seragam abu-abunya, kemudian kuusap-usap vaginanya yang mulai mengeluarkan cairan membasahi celana dalamnya. Kusibak sedikit celana dalam itu dan kuusap-usap bibir vagina dan klitorisnya. Tubuh Novi menggelinjang di dalam dekapanku. Erangannya semakin menjadi.

Aku sudah ingin menyetubuhi gadis muda ini. Kubalikkan badannya dan kuminta dia menungging bertumpu di meja rias. Kubuka celana dalamnya sehingga dia hanya tinggal mengenakan baju seragamnya yang kancingnya telah terbuka.

“Ahh..” jeritnya panjang ketika penisku mulai menerobos vaginanya yang sempit.
“Gila.. Memekmu enak banget Nov..” kataku ketika merasakan jepitan dinding vagina Novi.

Langsung kupompa penisku di dalam vagina gadis cantik itu. Sementara itu, tanganku memegang pinggulnya, terkadang meremas pantatnya yang membulat. Novi pun menjerit-jerit nikmat saat tubuh belianya kusetubuhi dengan gaya doggy-style. Kulihat di kaca meja rias, wajah Novi tampak begitu merangsang. Wajah cantik gadis belia yang sedang menikmati persetubuhan. Payudaranya pun tampak bergoyang-goyang menggemaskan di balik baju seragamnya yang terbuka.
Bosan dengan posisi ini, aku kembali duduk di kursi. Novi lalu duduk membelakangiku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Kusibakkan rambutnya yang panjang indah itu dan kuciumi lehernya yang putih mulus. Sementara itu tubuh Novi bergerak naik turun menikmati kejantananku. Tanganku tak ketinggalan sibuk meremas payudaranya.

“Ahh.. Ahh.. Ahh..” erang Novi seirama dengan goyangan badannya di atas tubuhku. Terkadang erangan itu terhenti saat kusodorkan jemariku untuk dihisapnya.

Beberapa saat kemudian, kuhentikan goyangan badannya dan kucondongkan tubuhnya agak ke belakang, sehingga aku dapat menghisapi payudaranya. Memang enak sekali menikmati payudara kenyal gadis cantik ini. Dengan gemas kulahap bukit kembarnya dan sesekali kujilati puting payudara yang berwarna merah muda. Erangan Novi semakin keras terdengar, membuat aku menjadi semakin bergairah. Setelah selesai aku menikmati payudara ranumnya, kembali tubuh belia Novi mencari pelepasan gairah mudanya dengan memompa penisku naik turun dengan liar. Tak kusangka seorang gadis SMA dapat begini binal dalam bermain seks.

Cukup lama aku menikmati persetubuhan dengan gadis cantik ini di atas kursi. Lalu kuminta dia berdiri, dan kembali kami berciuman. Kubuka baju seragam sekolah berikut BH-nya sehingga sekarang kami berdua telah telanjang bulat. Kembali dengan gemas kuremas dan kuhisap payudara gadis 17 tahunan itu. Aku ingin segera menuntaskan permainan ini. Lalu kutuntun dia untuk merebahkan diri di atas ranjang. Aku pun kemudian mengarahkan penisku kembali ke dalam vaginanya.

“Ahh..” erang Novi kembali ketika penisku kembali menyesaki liang kewanitaannya.

Langsung kupompa dengan ganas tubuh anak sekolah ini. Erangan nikmat kami berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah panas suasana. Kulihat Novi yang cantik menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.

“Mas.. Novi hampir sampai Mas.. Terus.. Ahh.. Ahh” jeritnya sambil tubuhnya mengejang dalam dekapanku.

Tampak dia telah mencapai orgasmenya. Kuhentikan pompaanku, dan tubuhnya pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kuperhatikan butir keringat mengalir di wajahnya nan ayu. Payudaranya naik turun seirama dengan helaan nafasnya. Payudara belia yang indah, besar, kenyal, dan padat. Mulutku pun dengan gemas kembali menikmati payudara itu dengan bernafsu.

Setelah itu, kucabut penisku dan kembali kujepitkan di payudaranya. Kali ini aku yang menjepitkan daging payudaranya pada penisku. Novi masih tampak terkulai lemas. Lalu kupompa kembali penisku dalam belahan payudara gadis ini. Jepitan daging kenyal itu membuatku tak dapat bertahan begitu lama. Tak lama aku pun menyemburkan spermaku di atas payudara gadis SMA yang seksi ini.

*****

Kami akhirnya menginap di motel tersebut. Selama di sana, aku sangat puas menikmati tubuh sintal Novi. Berulang kali aku menyetubuhinya, baik di atas ranjang, di meja rias, di kursi, ataupun di kamar mandi sambil berendam di bathtub. Sebenarnya ingin aku menginap lebih lama lagi, tetapi hari Senin itu aku harus menemui klienku di pagi hari, sementara ada bahan yang masih perlu dipersiapkan.

Hari Minggu malam, kami pun kembali ke Bogor. Kali ini ganti Andi yang menyetir mobilku. Lisa duduk di kursi penumpang di depan, sedangkan Novi dan aku duduk di belakang. Dalam perjalanan, melihat Novi yang cantik duduk di sebelahku, dengan rok mini yang memamerkan paha mulusnya, membuatku kembali bergairah. Akupun mulai menciuminya sambil tanganku mengusap-usap pahanya. Kusibakkan celana dalamnya, dan kumainkan vaginanya dengan jemariku.

“Ehmm..” erangnya saat klitorisnya kuusap-usap dengan gemas.

Erangannya terhenti karena mulutnya langsung kucium dengan penuh gairah. Tanganku lalu membuka baju seragam sekolahnya. Kuturunkan cup BH-nya sehingga payudaranya yang besar itu segera mencuat keluar menantang.

“Suka banget sih Mas.. Nyusuin Novi” ucapnya lirih.
“Iya habis susu kamu bagus banget” bisikku.

Desah Novi kembali terdengar ketika lidahku mulai menari di atas puting payudaranya yang sudah menonjol keras. Kuhisap dengan gemas gunung kembar gadis cantik ini hingga membuat tubuhnya menggelinjang nikmat.

“Gantian dong Nov” bisikku ketika aku sudah puas menikmati payudaranya yang ranum.

Kami pun kembali berciuman sementara tangan Novi yang halus mulai membukai resleting celanaku. Diturunkannya celana dalamku, sehingga penisku yang telah membengkak mencuat keluar dengan gagahnya. Novi pun kemudian mendekatkan wajah ayunya pada kemaluanku itu, dan rasa nikmat menjalar di tubuhku ketika mulutnya mulai mengulum penisku. Sambil menghisapi penisku, Novi mengocok perlahan batangnya, membuatku tak tahan untuk menahan erangan nikmatku.

“Ihh.. Gede banget.. Lisa juga pengen dong..”. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara Lisa yang ternyata entah sejak kapan memperhatikan aktifitas kami di belakang.
“Pindah aja ke sini” kataku sambil mengelus-elus rambut Novi yang masih menghisapi penisku.

Lisa pun kemudian melangkah pindah ke bangku belakang. Langsung kuciumi wajahnya, yang walaupun tidak secantik Novi tetapi cukup manis. Lidahku dan lidahnya sudah saling bertaut, sementara Novi masih sibuk menikmati penisku.

“Di.. Bentar ya nanti gantian..” kataku pada Andi yang melotot melihat dari kaca spion.
“Oke deh bos..” jawabnya sambil terus melotot melihat pemandangan di bangku belakang mobilku. Setelah puas berciuman, kucabut penisku dari mulut Novi.
“Ayo Lis.. Katanya kamu suka” kataku sambil sedikit menekan kepala Lisa agar mendekat ke kemaluanku.
“Iya.. Abis gede banget..” katanya sambil dengan imutnya menyibakkan rambut yang menutupi telinganya.
“Ahh.. Yes..” desahku saat Lisa memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Dihisapinya batang kemaluanku seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop. Rasa nikmat yang tak terhingga menjalari seluruh syarafku.

Cukup lama juga Lisa menikmati penisku. Sementara itu Novi kembali menyodorkan payudara mudanya untuk kunikmati. Setelah beberapa lama kuhisapi payudaranya, Novi kemudian mendekatkan wajahnya ke arah kemaluanku dan menciumi buah zakarku, sementara Lisa masih sibuk mengulum batang kemaluanku.

“Nih gantian Nov..” katanya sambil menyorongkan penisku ke mulut Novi yang berada di dekatnya. Novi pun dengan sigap kembali mempermainkan kemaluanku dengan mulutnya. Sementara itu, kali ini gantian Lisa yang menjilati dan menciumi buah zakarku.

Saat itu aku merasa seperti sedang berada di surga. Dua orang gadis SMA yang cantik sedang menghisapi dan menjilati penisku secara bergantian. Kuelus-elus kepala gadis-gadis ABG yang sedang menikmati kelelakianku itu. Nikmat yang kurasakan membuatku merasa tak akan tahan terlalu lama lagi. Tetapi sebelumnya aku ingin menyetubuhi Lisa. Ingin kurasakan nikmat jepitan vagina gadis hitam manis ini.

Kuminta dia untuk duduk di pangkuan sambil membelakangiku. Kusibakkan celana dalamnya, sambil kuarahkan penisku dalam liang nikmatnya. Sengaja tak kuminta dia untuk membuka pakaiannya, karena aku tak mau menarik perhatian kendaraan yang melintas di luar sana.

“Ah..” desah Lisa ketika penisku mulai menyesaki vaginanya yang tak kalah sempit dengan kepunyaan Novi.

Lisa kemudian menaik-turunkan tubuhnya di atas pangkuanku. Novi pun tak tinggal diam, diciuminya aku ketika temannya sedang memompa penisku dalam jepitan dinding kewanitaannya. Goyangan tubuh Lisa membuatku merasa akan segera menumpahkan spermaku dalam vaginanya. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak ejakulasi terlebih dahulu sebelum dia orgasme. Sambil menciumi Novi, tanganku memainkan klitoris Lisa.

“Ah.. Terus Mas.. Lisa mau sampai..” desahnya. Semakin cepat kuusap-usap klitorisnya, sedangkan tubuh Lisa pun semakin cepat memompa penisku.
“Ahh..” erangnya nikmat saat mengalami orgasmenya.

Tubuhnya tampak mengejang dan kemudian terkulai lemas di atas pangkuanku. Aku pun mengerang tertahan saat aku menyemburkan ejakulasiku dalam vagina gadis manis ini. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri dengan tisu yang tersedia.

“Mau gantian Di? ” tanyaku pada Andi yang tampak sudah tidak tenang membawa mobilku.
“So pasti dong” jawab Andi sambil menepikan mobil di tempat yang sepi.

Kami pun berganti tempat. Aku yang membawa mobil, sedangkan Andi pindah duduk di jok belakang. Rencananya dia juga akan main threesome, tetapi Novi juga ikut beranjak ke bangku depan.

“Aku cape ah Mas..” katanya.

Andi tampak kecewa, tetapi apa boleh buat. Kami pun segera melanjutkan perjalanan kami. Kudengar suara lenguhan Andi di jok belakang. Lewat kaca spion kulihat Lisa sedang mengulum penisnya. Karena sudah puas, aku tak begitu mempedulikannya lagi.

Sesampainya di Bogor, kedua gadis itu kami turunkan di tempat semula, sambil kuberi uang beberapa ratus ribu serta uang taksi.

“Kalau ke Bogor hubungi Novi lagi ya Mas..” kata Novi manis saat kami akan berpisah. Kulihat beberapa orang memperhatikan mereka. Mungkin mereka curiga kok ada dua gadis berseragam SMA di hari Minggu, malam lagi he.. He..
“Wan.. Gue doain lu dapat banyak proyek deh.. Biar lu traktir gue kayak tadi lagi..” kata Andi ketika aku turunkan di depan rumahnya.
“Sip deh..” jawabku sambil pamit pulang.

Kukebut mobilku menyusuri jalan tol Jagorawi menuju Jakarta. Aku tersenyum puas. Yang dulu selalu menjadi obsesiku, kini bisa menjadi kenyataan. Ternyata hidup itu indah.